Makna Kasih Sayang

“Ih,, kasian banget anak-anak itu..”, komentar temanku saat melihat gambar anak-anak di boarding yang menghiasi laptopku. Aku menelan ludah terkejut mendengar komentar itu. Dalam hati ku terheran, ekspresi anak-anak seceria itu koq dibilang “kasian”.. Tapi, mengingat temanku tersebut tidak pernah menempuh pendidikan boarding atau pesantren, aku memakluminya.

Komentar tersebut sebenarnya bukan untuk pertama kalinya ku dengar. Beberapa orang tua murid pernah menceritakan banyaknya saudara dan kerabat mereka berpandangan bahwa memasukkan anak ke pendidikan boarding atau pesantren adalah langkah yang tidak bijak. Pandangan tersebut berakar dari pemahaman masyarakat yang sebagian besar mengukur kasih sayang dari kehadiran fisik seseorang. Siapapun boleh saja berpendapat, namun kita perlu melihat kondisi anak, khususnya terkait tumbuh kembangnya anak masa kini dengan arif dan jujur.

Mari kita lihat anak yang tinggal bersama orang tua dari kecil hingga dewasa, apakah mereka tumbuh menjadi anak yang lebih baik dari pada anak yang disekolahkan di boarding/pesantren? Persoalannya adalah meskipun anak tinggal bersama orang tua, orang tua tidak dapat mengawasinya selama 24 jam. Seandainyapun orang tua tidak bekerja dan 24 jam  berada di rumah, tak semua orang tua mampu mendidik anak dengan bijak. Yang sering terjadi pada anak yang tidak pernah tinggal jauh dari orang tua adalah kurangnya kemandirian. Akibat ketergantungan ini, tak sedikit orang tua yang masih harus membiayai anaknya yang telah berkeluarga. Bahayanya adalah jika ternyata usia orang tua tak lebih panjang dari anak, anak tersebut akan mengalami kesulitan menghadapi tantangan hidupnya tanpa orang tua.

Langkah orang tua menitipkan anak ke Boarding/Pesantren agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri merupakan suatu langkah bijak. Disamping itu, banyak hal yang dapat anak peroleh untuk bekal hidupnya di masa depan, yang mungkin tidak didapatkannya di rumah atau di lingkungan masyarakat sekitar. Dengan kata lain, memilih boarding/pesantren yang tepat untuk pendidikan anak, merupakan bukti kasih sayang orang tua kepada anak, yang ingin anaknya siap menghadapi masa depannya. Namun, apakah anak yang tinggal di boarding/pesantren tumbuh lebih baik dari anak lainnya? Tidak selalu. Pasalnya ternyata banyak pula lulusan boarding/pesantren yang yang tidak senantiasa menjadikan Al Quran sebagai pedoman, malah semakin jauh, salah satu contohnya dengan terlibat kasus korupsi.

Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah, di Boarding/pesantren mana anak akan dititip? Oleh karenanya, orang tua perlu meninjau boarding/pesantren tempat anak akan dititipkan. Tidak cukup dengan melihat penampilan fisik, tapi perlu dilihat pula bagaimana aktivitas anak-anak di boarding tersebut. Hal yang tak kalah penting adalah memahamkan ke anak tujuan anak bersekolah di Boarding. Sebab, salah satu kesalahan banyak orang tua adalah menitipkan anak ke pesantren karena tidak diterima di sekolah favorit atau karena tidak mau direpotkan oleh urusan anak. Seandainya pun orang tua memang sibuk dan anak memang tidak diterima di sekolah favorit, anak perlu dibimbing mengenai apa manfaat ia tinggal di pesantren, sehingga ketika di boarding/pesantren, anak akan mendapatkan manfaat yang optimal. Karena: إنّما الأعمال با النيّة è Segala hal itu berawal dari niat.. =)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s