Rayya,”Si Kreatif yg Mahal Senyum”

“Ummi…. Ummi….. Ummi…..” Eits, ini bukan lagu “Ummi” yang pernah dibawakan oleh Sulis & Hadad Alwi. Ini adalah lantunan teriakan tangis Rayya sekitar dua tahun silam saat ngambeg karena ada pesanannya yang tidak dibawakan oleh Umi & Abinya yang sedang berkunjung ke Ma’had (Boarding). Haha,, saking lucu tangisannya, sampai-sampai momen tersebut direkam dengan handycam. Tapi tak lama setelah kejadian itu dan hingga kini, Rayya yang anak bungsu di keluarganya itu tak pernah lagi menangis, tak pernah lagi merajuk-rajuk ke orang tuanya yang sedang berkunjung.

Rayya tinggal di Boarding ini sejak kelas 2 SD. Siapa sangka, Rayya masuk Boarding atas keinginannya sendiri, selang 1 minggu setelah kakaknya yang kelas 4 SD dan 2 SMP masuk ke Boarding. Awalnya, orangtuanya berpikir bahwa keinginan Rayya masuk Boarding alias pesantren cuma keinginan sesaat, eh.. ternyata Rayya ingin tinggal dan menuntut ilmu di Boarding.


Senang rasanya melihat perkembangan Rayya yang sudah hampir 4 tahun tinggal di Boarding. Pada awal masa-masa Rayya di Boarding, kami mendapatkan bahwa ternyata sejak di rumah ia paling “alergi” dengan tulisan Arab. Entah mengapa, orang tuanya menceritakan bahwa sulit sekali mengajarkan Rayya membaca Iqro’. Alhasil, di saat teman-temannya dapat mencapai target tahfizh sebelum berlibur ke rumah, Rayya pasti paling terakhir. Nilai pelajaran Bahasa Arabnya jauh dari kemampuan sebenarnya. Ternyata kebiasaan yang sudah menjadi karakter memang tidak mudah untuk diubah, namun belum terlambat, mengingat usia Rayya yang masih sangat muda.

Tapi Alhamdulillah, sekarang Rayya yang duduk di kelas 5 SD, terlihat sudah mulai menyenangi Bahasa Arab. Pekan lalu (pekan ke-2 April 2013), dia menyetorkan hafalannya pada saya (dulu, dalam 1 bulan bisa jadi hanya 1x menyetorkan hafalan). Lalu beberapa hari lalu, saat sedang ada taushiyah setelah shalat Subuh berjama’ah, saya yang duduk di shaff shalat persis di sebelah Rayya mengintip tulisan tangan Rayya. Subhanallah,, istilah Bahasa Arab yang disebutkan dalam taushiyah, dicatat oleh Rayya dg tulisan Arab, dan benar pula. Aku jadi menahan tawa bahagia dan menyembunyikan senyum (kalau Rayya tahu apa yang membuatku tersenyum, pasti dia salting dan bisa-bisa berhenti menuliskan tulisan-tulisan Arabnya).

Hal berkesan lain dari Rayya adalah ekspresinya yang datar dan jutek. Dia bisa tersenyum manis memperlihatkan giginya yang tersusun rapi ketika sedang salah melakukan sesuatu. Tapi ketika dia sedang dapat giliran tampil ke depan, susah sekali menemukan senyumnya. weleh-weleh. Oh, ya kalau Rayya dan teman-teman sedang mengantri mandi, hampir pasti Rayya berada di urutan terakhir, dan mandinya secepat kilat. Terkadang, aku suka menggodanya dengan mengenduskan hidung ke badannya untuk memastikan dia benar-benar mandi. Hehe, tapi sekarang Rayya sudah wangi terus, dan sudah mulai bisa tersenyum. Hobinya si tidak berubah, tetap..

kalau ada pilihan mandi atau memasak, dia akan lebih senang menghabiskan waktu di dapur. Masakannya juga selalu enak lho.. Hobinya adalah mengolah pisang, terutama membuat pisang goreng. Dia bisa membuat pisang goreng untuk disajikan pada seluruh teman-temannya dan civitas Boarding. Selain itu Rayya juga pandai mengotak-atik mulai dari laptop, sound system, hp ortunya (bahkan untuk aplikasi yang belum pernah digunakan sebelumnya), dll. Tapi jangan salah, Rayya tidak punya hp ataupun laptop. Dia belajar semuanya otodidak. Tahun lalu saat kami mengadakan Raker tahunan, dan aku bersama rekanku menjadi sekretaris 1&2, karenanya banyaknya volume kerja, kami melibatkan Rayya yang saat itu baru akan naik ke kelas 4. Kami memanggilnya “Sekretaris 3” ^_^

Satu lagi,, meski ekspresinya sering tampak datar, Rayya diam-diam punya bakat menulis lho… Terbukti dengan prestasinya meraih juara 1 dalam lomba literasi antar santri di Boarding kami pada perayaan Idul Adha 1433 H. Belum lama ini, cerpen karya Rayya, masuk nominasi 20 besar dalam lomba menulis tingkat nasional: Penulis Cerpen Islami (PECI) yang diselenggarakan sebuah penerbit.

Pelajaran:
# Kebiasaan baik harus mulai dibiasakan sejak dini. Semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit mengubah kebiasaannya.
# Kepemilikan terhadap fasilitas, tidak selalu menjadi syarat keberhasilan. Banyak orang sukses diawali dengan fasilitas yang terbatas.

Mau tahu apa kata Rayya tentang pengalamannya di asrama? Coba cek “Rayya’s handwriting”

Rayya's handwriting

Iklan

3 respons untuk ā€˜Rayya,”Si Kreatif yg Mahal Senyum”ā€™

  1. ruaaar biasa.. mantap.!!
    always.senyum.:)
    o iy, sya trmasuk penggemar pisang goreng loh, kpan2 sya bisa nyobain nih pisang goreng buatannya. šŸ™‚
    .
    yups betul ka, kebiasaan mmang harus d bentuk sejak dini.

  2. ok ka, Insya Allah.
    waah.. mantep tuh kyanya. kolak pisanggg.. heeemmmm.. šŸ˜€
    o iy ka, tulisannya bagus ka.
    trutama d bagian pmbelajarannya yg tntang keterbatasan fasilitas it. pengalaman juga.
    keren keren.
    o iy it yg handwritingnya jga bagus, cuma ky nya yg nulis ad 2 orang, yg satu saya, n yg satu aku. hhe. tpi kereen. šŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s