Rian,”Penuh Kejutan”

Belum setahun aku mengenal Rian, tapi aku banyak belajar dari Rian.

Rian adalah seorang cucu mantan pejabat tinggi RI, yang pada pertengahan tahun 2012 lalu berkunjung ke Boarding (Ma’had) kami. Entah apa yang membuat beliau betah (padahal kondisi Ma’had kami saat ini masih jauh dari mewah), beliau datang sekitar pk. 21 dan baru pulang pk. 3 pagi. Aku lihat beberapa kali beliau meneteskan air mata ketika melihat kreasi anak-anak. Beliau menyampaikan akan memasukkan cucunya ke Ma’had kami. Ternyata benar, sekitar 1 bulan setelah kedatangannya, beliau datang kembali mengajak keluarga besarnya, dengan seorang cucu beliau yang hendak dititipkan di Ma’had kami. Sayangnya saat itu sebagian besar civitas Ma’had sedang melaksanakan outdoor learning and teaching, jadi kami tak sempat bertatap muka.

Selang satu pekan, datanglah Rian bersama Papanya. Rian terlihat sangat pendiam kala itu. Badannya gemuk (tampak seperti anak manja yang tak pernah beraktivitas), kulitnya putih bersih, matanya coklat dan pipinya sangat menggemaskan.”Hmm,, ini pasti anak manja yang apapun selalu difasilitasi oleh orang tua”, gumamku dalam hati pada hari pertama kedatangan Rian.

Tapi pandanganku berubah 180′ setelah mengenalnya. Rian yang saat itu diantar Papanya pada pk. 21 dan setelah bercengkerama selama 2 jam dengan pengurus Ma’had, Papanya Rian kembali pulang.Aku takjub melihat tak sedikitpun Rian menggelayuti ataupun bermanja-manja dengan Papanya. Rian sama sekali tidak menangis, bahkan hingga keesokan harinya.

Hari demi hari aku mengenal Rian, aku justru menemukan betapa mandirinya Rian, yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Padahal saat itu untuk pertama kalinya Rian tinggal jauh dari keluarganya yang bertempat tinggal di Pulau seberang nun jauh disana.Berbeda dengan kebanyakan murid baru lain yang biasanya banyak permintaan dan merajuk minta ditambahkan uang tabungannya saat berkomunikasi di hari komunikasi dengan ortu, Rian cenderung tidak mau merepotkan ortunya. Bahkan ketika orang tuanya belum sempat mengirimkan uang untuk tabungan kebutuhan hariannya, Rian tidak merengek minta dibelikan makanan, dan tidak celamitan. Alhamdulillahnya, teman-teman yang lain sering berbagi jika ada rezeki, termasuk kue.

Setelah 6 bulan, Opa, Oma, dan Papa Rian datang. Aku sangat bersyukur melihat kebahagiaan keluarganya melihat Rian, yang katanya tumbuh menjadi Rian yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Opa dan Omanya menitikkan air mata, saat aku meminta Rian tampil di depan kita semua pada acara penampilan seni santri. Omanya menyampaikan kebahagiaannya, karena menurutnya, Rian adalah anak yang sangat pemalu, tidak pernah keluar rumah, dan di rumah kerjanya hanya menangis. Aku takjub mendengar hal tersebut. Jauh dari Rian di Ma’had yang menurutku sangat cerewet, ramah, dan bisa dekat dengan siapapun (yang sebaya maupun yang lebih tua).Keluarganya juga menyampaikan senang melihat tubuh Rian yang sudah tidak gendut dan gombyor lagi.

Ya, sekarang Rian “tumbuh ke atas” dan badannya sudah agak atletis, mungkin karena banyaknya aktivitas, dan kami mewajibkan Rian untuk ikut aktivitas olahraga bersama temannya. Oh, ya keluarganya juga bercerita bahwa Rian senang pelajaran menghafal, namun sangat payah dalam matematika. Kebetulan aku mendapatkan tugas mengajar Rian matematika. Apa yang dikatakan keluarganya ternyata benar. Aku sering kasihan dengan anak-anak Sekolah Dasar saat ini. Aku melihat tidak hanya pada matematika, namun di seluruh pelajaran, beban anak sangat berat. Sehingga, belum sempat mereka menguasai satu bab, mereka dituntut harus menguasai bab lainnya. Aku tidak mengajarnya dengan mengejar materi di SD formalnya, tapi aku mulai dari titik dimana dia lemah. Pekan lalu dia menunjukkan nilai matematikanya yang hanya 2,8. Tapi aku tersenyum, karena aku tahu baru sampai situlah kemampuan dia. Kami memang berprinsip bahwa anak harus paham konsep karena nilai bukan satu-satunya alat ukur kecerdasan anak.

Dan aku senang karena pada kelas matematika beberapa hari yang lalu, Rian mengalam kemajuan, dan telah mampu menyelesaikan beberapa soal ulangan yang belum dipahaminya. Tentang hobi, Rian dari awal kedatangannya telah menunjukkan kegemarannya terhadap ikan. Maka, ia kerap menanyakan, apakah boleh menguras kolam lele/tidak. AKtivitas panen lele pun menjadi salah satu aktivitas yang menyenangkan bagi Rian dan kebanyakan anak-anak. Rian juga sangat hobi melukis. Lihat saja tulisan tangannya, selalu bergambar =)

Pelajaran:
# Orangtua bijak, TIDAK memanjakan anaknya dengan harta dan berbagai fasilitas yang justru akan menjauhkan anak dari
kemandirian.Fasilitas boleh diberikan, tapi dengan pertimbangan yang matang =)
# Tinggal jauh dari orang tua dan hidup bersama teman-teman baru di asrama memberi banyak pelajaran penting bagi kehidupan
anak, terutama belajar mandiri.

Mau tahu apa kata Rian tentang pengalamannya selama di Boarding? just check “Rian’s handwriting” below!

Rian's handwriting

Iklan

2 respons untuk ‘Rian,”Penuh Kejutan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s